Thursday, April 17, 2014

Review: Transcendence (2014)


Transdensi adalah proses dimana manusia beriman kepada yang Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta bersama seluruh isinya atau menghendaki manusia untuk mengakui tuhan adalah pemegang otoritas yang mutlak. Singularity adalah sebuah keadaan dimana kecerdasan teknologi atau komputer diyakini telah melebih kecerdasan manusia sendiri. Dikarenakan kemungkinan terjadinya singularity masih kecil, masyrakat awam percaya bahwa singularity akan terjadi di masa depan yang jauh dari sekarang.


Berpatok dengan 2 teori diatas ada Will Caster dan Evelyn sepasang kekasih sekaligus ilmuwan yang ingin menggabungkan kecerdasan teknologi dalam bentuk artificial intelligence bernama PINN yang secara tidak langsung juga merupakan ambisi dua sejoli ini untuk menciptakan tuhan sendiri. Hal ini lah yang ditentang kaum pemberontak bernama RIFT yang menyebutkan bahwa membangun teknologi tersebut adalah awal petaka dari umat manusia.

Jika ada yang masih peduli tentang orang-orang dibelakang sutradara besar Chrostopher Nolan, mungkin nama Wally Pfister cukup familier.Wally Pfister adalah pemenang Oscar untuk sinematografinya dalam Inception. Wally adalah sinematrogafer langganan Nolan sejak Memento. Ini merupakan debut pertamanya sebagai sutradara dimana Nolan ada dibalik kursi produser.


Pertama-tama lihat betapa menariknya tema yang diangkat Transcendence. Mungkin penggabungan sci-fi dan konsep tuhan bukan barang baru didunia perfilman, sebut saja Promotheus atau The Matrix. Tapi tak dapat disangka tema tentang science dan tuhan ini selalu menarik jika dikaitkan dan dapat terlihat bagi sebuah karya yang ambisius.

Sayangnya disini sang penulis skrip Jack Paglen, tidak berbuat banyak untuk menjadikan Transcendence sebagai sci-fi yang benar-benar bergizi untuk penontonnya. Naskah yang ditulis disini seperti bingung untuk memfokuskan narasinya kearah mana. Keandalan Nolan dalam mengarahkan cerita pun tidak tertular pada Wally dengan eksekusi scene demi scenenya yang tergesa-gesa, tidak memberikan kesempatan para karakaternya untuk berkembang. Saya tidak sepenuhnya meyalahkan Wally karena sebenarnya naskah Paglen sudah terlalu buruk.


Johnny Depp,Morgan Freeman, Rebecca Hall, Cillian Murphy, Paul Bethany adalah jaminan sebuah film untuk meraih kesuksesan. Namun akting mereka semua disini melempem. Johnny Depp yang ditunjuk sebagai Will Caster sama sekali tidak menunjukkan kompleksitas karakternya sebagai ilmuwan dengan ambisinya yang luar biasa itu. Sangat mengecewakan dan datar sekali.

Teori singularitas dan transdensi mungkin lebih akan menarik jika anda mempelajarinya sendiri melalui buku-buku atau internet. Jangan harap Transcendence memberikan sebuah pelajaran baru , karena sesaat setelah anda keluar studio mungkin anda sudah lupa dan segera mencari makanan seperti mahasiswa yang selesai dari kuliah yang membosankan.


No comments:

Post a Comment