Thursday, November 6, 2014

Review: Interstellar (2014)


Well, It's been a while. Terakhir kali menulis hampir sebulan yang lalu tepatnya ketika Tabula Rasa beredar di bioskop nusantara. Bukan karena tidak ada film atau sibuk bukan main, kebetulan sekali bulan lalu adalah bulan yang sangat sepi dari film-film yang menarik perhatian. Maklum untuk urusan ini saya masih sering pilih-pilih.

Lalu datanglah November. Di daftar tayang IMDB prospek bulan kesebelas ini adalah yang paling menjanjikan untuk menguras dompet penggila film seluruh dunia. Lihat saja daftarnya, hampir semua memiliki daya tarik tersendiri baik dari segi pemain, sutradara maupun sekuel yang sudah ditunggu-tunggu penggemarnya. Dan faktor kedualah yang menjadikan Interstellar sudah berhasil menyedot perhatian dunia jauh sebelum beredar di pasaran.


Interstellar bersetting pada bumi masa depan yang sudah tidak layak huni dengan meninggalkan tanaman jagung sebagai tumbuhan yang masih bisa hidup untuk dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Cooper, astronot yang pensiun setelah mengalami insiden semasa bertugas dipaksa melakukan misi Lazarus oleh Profesor Brand, Pejabat NASA untuk mencari planet lain untuk dihuni di luasnya galaksi bersama Amelia dan Doyle.

Harus meninggalkan anak gadisnya, Murph, tim Cooper dituntut menemukan planet tersebut dengan menembus ruang dan waktu demi menyelamatkan jutaan umat manusia di Bumi.

Christopher Nolan. Nama ini sudah menggema sebagai sutradara yang mampu membuat cerita orisinil, menutupnya rapat-rapat dan boom selalu ada kejutan di setiap filmnya. Hal yang sama terjadi dengan Interstellar. Kali ini Nolan mampu menyajikan konsep teori fisika seperti wormhole, blackhole, singularity dan multidimensional space yang dikaitkan secara rinci melalui hubungan anak-ayah, Jessica Chastain dan Matthew McConaughey.


Tidak perlu menjadi fisikawan untuk memahami apa yang dimasukkan Nolan kedalam Interstellar. Nolan sudah dengan murah hati menyederhanakan teori-teori tersebut dalam presentasinya. Meskipun harus diakui ada beberapa teori yang membutuhkan proses pencernaan lebih lama seperti adegan setengah jam terakhirnya.

Selain itu untuk pertama kalinya saya menemukan cela pada film Nolan. Sang penulis naskah, Jonathan Nolan sepertinya lupa untuk memberikan background story yang kuat untuk karakter Cooper dan kondisi bumi pada yang dijadikan setting film ini. Sehingga mau tidak mau saya masih berpikir apa yang salah dengan bumi hingga harus mencari planet lain intuk ditinggali.

Selebihnya Nolan sudah membuat saya terbuai dengan konsep ambisiusnya melintasi ruang dan waktu, melakukan perjalanan antar bintang dan mengarungi luasnya galaksi yang akhirnya dikembalikan lagi kepada hubungan ayah-anak yang sederhana.


1 comment: