Thursday, August 20, 2015

Review: Inside Out (2015)



Sudah memasuki paruh kedua 2015, baru ada 2 film yang sudah otomatis akan masuk daftar terbaik saya tahun ini. Mad Max: Fury Road (duh) dan Inside Out. Inside Out? Dari Pixar yang sudah menurun sejak Toy Story itu? Studio yang sudah kehabisan ide orisinil dan berubah menjadi studio sekuel itu? IYA.

Lihat saja beberapa situs rating film seperti IMDB dan Rotten Tomatoes. Kemudian newsfeed linimasa twitter saya yang penuh dengan pujian dari beberapa teman-teman setelah menonton film yang diundur penayangannya di Indonesia karena slot bulan ramadhan. Mereka semua meracuni follower mereka dengan melakukan persuasi agresif untuk segera menontonnya di bioskop. Sebagus itukah?  


Berkenalanlah dengan Joy, Sadness, Fear, Anger, Disgust. Mereka adalah makhluk-makhluk kecil imut menggemaskan yang hidup dalam kepala gadis bernama Riley. Berlima bertugas untuk mengatur emosi Riley agar tetap bahagia. Masing-masing bekerja di departemen yang menyesuaikan nama mereka. 

Namun semua berubah ketika Riley dan keluarganya pindah rumah. 5 makhluk ini kewalahan untuk mengatur emosi Riley yang masih sangat labil ini ditambah Sadness yang merasa tidak diberikan peran apapun oleh Joy. Mengingat Joy memberikan peran penting bagi kebahagiaan Riley sedangkan Sadness akan memberikan kesedihan mendalam bagi Riley.

Ini dia. Inilah yang kita harapkan ketika menonton film Pixar. Sebuah animasi sederhana mengikat erat hati penonton lewat jalinan cerita yang begitu personal. Rasanya tidak ada adegan yang sia-sia dalam Inside Out. Pete Docter selaku sutradara berhasil meleburkan 1 plot utama dengan 1 subtle plot lainnya dengan begitu sempurna.

Plot utamanya jelas hubungan kelima karakter yang ada di dalam kepala Riley. Bagaimana mereka berinteraksi agar Riley tetap bahagia sampai mengerucutkan konflik antara Joy dan Sadness terstruktur rapi sejak awal. Dari sini Docter merajut secara pelan subtle plot lainnya, kepribadian Riley kecil yang ceria mendadak tidak stabil ketika tumbuh menjadi gadis puber. Kedua plot ini mungkin tidak akan mudah dimengerti oleh penonton kecil karena sudah terlalu terdistraksi oleh 5 karakter imut di dalamnya. Namun hal ini berbeda ketika kita, orang dewasa menyaksikannya. Inside Out adalah sebuah studi tentang jalan pikiran manusia. Bagaimana otak ingin bereaksi tentang suatu hal. Dan bagaimana hal tersebut merupakan bagian dari tahap kehidupan manusia. 

Inside Out juga mengajarkan bahwa hidup manusia tidak selalu dan tidak harus bahagia. Terkadang kesesdihan mengambil peran dalam kehidupan manusia demi manusia itu sendiri agar menjadi lebih baik dan lebih bahagia di kemudian hari.


4 comments:

  1. definetely the best from Pixar in this past 4-5 years!

    btw, tuker kink gan?
    lam kenal

    ReplyDelete
  2. Link added ya gan..
    ni blog ane>> nugrosinema.wordpress.com

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete