Sunday, August 17, 2014

Review: The Expendables 3 (2014)


Orang bijak pernah berkata 'ketika kalian sudah menginjak usia senja, pikiran kalian akan kembali seperti bocah-bocah balita,' apapun kemauanmu harus dituruti, tidak peduli itu menyusahkan yang dimintai tolong pokonya harus terlaksana

Itu merupakan sedikit gambaran pembuka ketika Sylvester Stallone memutuskan kembali mengajak para koleganya yang keriputnya sudah dimana-mana untuk bermain dalam film aksi '80 an, The Expendables 2010 lalu.

Sebenarnya mereka yang angkat nama pada era '80 an itu sudah layak untuk berhenti main film laga mengingat rentannya mereka untuk ngos-ngosan karena usia mereka. Tapi apa daya semua saya kembalikan ke paragraf pembuka.
  
"How hard can it be to kill ten men?" Conrad

Anyway, The Expendables sudah menginjak installment ke 3 tahun ini. Menambah Antonio Banderas, Harrison Ford, Mel Gibson dan beberapa bintang muda ke dalam cast nya untuk meluaskan target pasar ke para pemuda. Tidak hanya itu rating dipotong sampai PG-13 agar pasar yang mereka sasar tercapai.

Barney Ross dan kru nya kali ini berhadapan dengan salah satu mantan member The Expendables, Conrad yang sudah tidak sepemikiran lagi dengan Barney pasca membentuk The Expendables di masa lalu dan kini menjadi salah satu penjual senjata api ilegal buronan CIA. Namun seperti biasa. CIA don't want to get their hands dirty, maka diutuslah The Expendables untuk memburu Conrad.


"Galgo, get out of the seat, Christmas is coming!" Barney Ross

Keputusan PG-13 itu adalah blunder terbesar yang dilakukan tim produksi film yang disutradarai oleh Patrick Hughes ini. Ya mungkin The Expendables tidak menawarkan plot rumit seperti film Christopher Nolan tapi setidaknya sampai sekuel pertamanya, The Expendables sukses membuat para penonton kembali bernostalgia lewat guyonan lawas, desingan peluru dan darah-darah bermuncratan.

Apa jadinya ketika semua kekerasan itu dipotong demi memenuhi persyaratan PG-13? HAMPA. Tidak ada darah setetespun terlihat ketika pisau menancap sangat dalam, joke nya pun saya tidak terlalu mengerti mungkin karena terlalu lama dan saya belum lahir. Dari sequence aksi pun tidak ada yang benar-benar baru.  Saya benar-benar kehilangan keasikan menonton kakek-kakek tua tahun ini.

Kecuali Jason Statham dan cast muda nya mungkin akan lebih asik menonton Sylvester Stallone dkk mengikuti senam lansia tiap Minggu pagi yang memang sudah kodrat mereka untuk hidup sehat dan mengurangi steroid untuk menambah massa otot mereka.

"I'm the knife before Christmas." Doc



No comments:

Post a Comment