Sunday, March 16, 2014

Review: Utopia Season 1 (2013)

 

David Fincher telah sukses membuat debut gemilang dalam serial televisi House of Cards yang dibintangi Kevin Spacey dan Robin Wright dengan menyajikan thriller politik gedung putih sampai membuat penonton seperti terikat di tempat duduknya. Setelah kesuksesan ini, David Fincher tampak belum puas dengan apa yang diraihnya dan kini sedang menukangi proyek remake serial Inggris berjudul Utopia yang akan dirilis tahun ini. Sebelum jauh-jauh mengikuti perkembangan proyek remake ini, mari kita telaah lebih lanjut kenapa sutradara sekaliber Fincher sampai mau membuatkan remake thriller Britania Raya satu ini. 




Jika anda belum tahu Utopia berkisah tentang sekelompok penggemar komik berjudul 'The Utopia Experiments.' Dikarenakan penulisnya sudah meninggal komik ini berhenti pada volume 1 saja. Namun yang tidak diketahui oleh para pengikutnya adalah sebenarnya sang pembuat komik telah meluncurkan volume ke 2 dengan manuscript yang telah diedarkan secara terbatas.


Hal ini membuat Wilson, Grant, Becky, Ian yang tergabung dalam penggemar komik tersebut untuk berburu manuscript langka ini. Dalam proses perburuannya ada hal yang tak disangka oleh mereka. Kini mereka harus diburu oleh sekelompok orang-orang berlabel 'The Network' yang juga sedang mencari manuscript ini. The Network tidak akan segan-segan menyiksa, menganiaya atau anda sebutkan sendiri hanya demi mendapatkan manuscript tersebut. Karena sebenarnya manuscript tersebut memuat hal-hal besar yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Jika dilihat sepintas ini bukanlah jenis thriller yang seharusnya menarik perhatian Fincher. Fincher terkenal dengan thriller serius dengan tone gelap didalamnya. Hal sebaliknya terjadi pada Utopia. Lihat saja dasar thriller ini hanya sebuah komik yang mungkin adalah bacaan sehari-hari anak-anak seperti Grant. Bahkan Dennis Kelly, sang kreator membuat Utopia se-enjoyable mungkin dengan bermain warna-warna yang tabu untuk sebuah thriller. Merah, kuning (yang sering muncul), dan biru adalah 3 warna yang terus mendominasi serial berjumlah 6 episode ini. Bahkan di setiap scene nya Dennis Kelly selalu memasang 3 warna tersebut di setiap background nya dengan sangat mencolok. Inilah yang membuat Utopia sangat unik.


Dibalik warna-warni yang dimainkannya, Dennis Kelly tetap menggarap naskahnya dengan matang. Ini dapat dilihat dari Kelly menarasikan ceritanya dapi episode pilot. Naskahnya sudah begitu mengikat penonton melalu pace cepat yang sekaligus menaikkan tingat penasaran penontonnya mengenai apa sebenranya yang ada dalam manuscript tersebut. Awalnya mungkin anda akan mersa kebingungan seperti saya namun setelah berjalan ke episode-episode selanjutnya semua dibuka sedikit demi sedikit dengan menambahkan karakter-karakter yang efektif dengan penceritaan hingga nanti pada finale nya twist besar siap menendang anda.


Berurusan dengan para pelakonnya semua memainkan karakternya dengan pas with their own unique way. Yang paling berani dilakukan Kelly adalah memainkan karakter anak kecil dalam wujud Grant dan Alice mengingat konten Utopia yang tak ragu mengekspos darah didepan anak-anak. Terlebih lagi plot yang diberikan kepada karakter Alice yang sangat gelap untuk ukuran anak-anak.


Terlepas dari mempertanyakan apakah David Fincher tetap mampu mempertahankan tone warna-warna ceria yang menjadi poin plus dari Utopia, marilah kita belajar mengetahui bagaimana sebuah sendok, cabe, pasir, dan garam berubah menjadi alat-alat torture yang sungguh pedih.


No comments:

Post a Comment