Thursday, February 6, 2014

Review: Killers (2014)


2009 lalu, MO Brothers sukses menggegerkan publik Indonesia dengan salah satu keluarga paling sadis dalam sejarah perfilman Indonesia dalam Rumah Dara. Tidak hanya menjadi bahan perbincangan, Rumah Dara juga menjadi angin segar dalam industri perfilman tanah air yang stagnan dalam genre tertentu. Tahun ini MO Brothers kembali hadir lewat karya terbaru mereka yang menjadi satu-satunya film Indonesia yang berhasil masuk Official Selection Sundance Festival 2014 (bukan, The Raid 2 bukan film Indonesia) melalui Killers.


Killers bercerita tentang Bayu, seorang jurnalis yang karirnya menurun drastis atas tulisannya terhadap Dharma, politikus yang sedang berkuasa belakangan ini sehingga harus berpisah dengan Dina dan Eli, istri dan anaknya. Ketika mengasingkan diri inilah Bayu menemukan hobi baru. Hobinya menonton adegan-adegan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Shouhei Nomura, psikopat asal Jepang yang mengupload hasil-hasil "karyanya" ke dunia maya. Berlama-lama menghabiskan waktunya untuk menonton pertunjukan tersebut, memicu insting membunuh seorang Bayu yang tak kalah dengan apa yang dilakukan Nomura.

Killers sudah membawa penontonnya untuk menaikkan urat-urat tegang mereka sejak menit pertama lewat dentuman scoring bass yang menaikkan adrenalin itu. MO Brothers membagi Killers menjadi 2 bagian. Yang pertama adalah menelususri secara personal siapa Bayu sebenarnya. Di bagian ini, Mo brothers mengeksekusi naskah Timo Tjahjanto dengan sangat baik. Menampilkan semua background yang diperlukan untuk membangun karakter Bayu. Sebaliknya pada bagian Nomura yang screenplaynya ditulis oleh Takuji Ushiyama, tidak ada latar belakang yang jelas mengenai apa yang memicu Nomura untuk melakukan hal-hal kejam tersebut. Inilah salah satu kelemahan dari Killers. Selain itu MO Brothers yang telah menjalankan scene demi scene lengkap dengan konten gore dan violencenya dari awal, harus kedodoran di seperempat akhir film. Satu poin yang akhirnya mempertemukan 2 karakter saling berhadapan ini, Killers menjadi gampang terbaca. Dan jika dibandingkan dengan Rumah Dara, MO Brothers sedikit mengurangi darah yang telah menjadi signature mereka.


Dari departemen aktingnya sendiri 3 bintang utamanya sudah menjalankan misinya dengan sangat baik. Senang rasanya melihat Luna Maya yang baru saya tonton pertama kali di bioskop dengan karakter Dina yang diperankannya. Meskipun tampil sebentar, Luna sukses memberikan pengaruhnya pada cerita yang ingin disampaikan kepenontonnya. Kemudian ada aktor asal Jepang Kazuki Katamura yang menjelma menjadi seorang psikopat tanpa rasa ampun lengkap dengan sorot mata tajamnya. Dan Oka Antara sudah mengerjakan peran terbaik dalam karirnya sebagai Bayu yang awalnya hanya menjadi penonton setiap aksi-aksi Nomura yang lama-kelamaan iblis yang tertidur dalam tubuuhnya perlahan-lahan bangun dari tidurnya.

Jujur saja, Killers tidak memenuhi ekspektasi saya yang tinggi mengingat apa yang telah dilakukan MO Brothers dalam Rumah Dara itu sangatlah fresh namun tenang saja masih ada kekejaman-kekejaman tingkat tinggi dan sedikit elemen kanibalisme disini. Dan yang paling penting selamat menikmati tetes demi tetes air liur yang tak kunjung berhenti keluar dari mulut Bayu.


4 comments:

  1. Seriously, "cuma orang idiot yang bilang the raid bukan film indonesia". Bahkan sutradara gareth evans pernah mengatakan hal yang sama.

    ReplyDelete
  2. Seriously, "cuma orang idiot yang bilang the raid bukan film indonesia". Bahkan sutradara gareth evans pernah mengatakan hal yang sama.

    ReplyDelete
  3. Seriously, "cuma orang idiot yang bilang the raid bukan film indonesia". Bahkan sutradara gareth evans pernah mengatakan hal yang sama.

    ReplyDelete