Friday, February 7, 2014

Review: The Lego Movie (2014)


Phil Lord adalah sutradara baru di ranah komedi khususnya untuk film animasi. Terhitung baru satu hasil karyanya dalam genre ini yaitu menghasilkan hujan makanan yang membuat saya kekenyangan dalam Cloudy with a Chance of Meatballs. Kemudian 2 tahun lalu sukses menghidupkan kembali buddy cop movie yang sempat menjadi bahan perbincangan pada tahun 90 an, 21 Jump Street. Kali ini Phil tidak sendiri, berduet dengan Christopher Miller membangun kembali film tentang mainan yang mungkin sangat universal hingga seluruh dunia pasti akan tahu hanya lewat tumpukan brick-brick kecil itu. Yes, it's The Lego Movie.

"Okay, I think I got it, but just in case say it all over again I wasn't listening." Emmet

8 tahun sebelum semuanya dimulai, Vitruvius seorang penyihir legendaris bersitegang denga President Business yang ingin sekali menghancurkan Lego World dengan senjata pemusnah masalnya dalam wujud lem super bernama 'Kragle'. Singkat cerita President Business berhasil mengalahkan Vitruvius namun sebelum meninggalakannya begitu saja, Vitruvius meramalkan akan ada sosok 'The Special One' yang akan menyelamatkan dunia lego dengan menemukan piece of resistence yang hingga saat itu tidak diketahui keberadaannya oleh President Business.


Loncat 8 tahun kemudian, ada Emmet seorang buruh bangunan yang tidak mempunyai skill apa-apa dan bahkan tidak dikenali oleh teman-temannya sendiri, suatu hari setelah pulang bekerja Emmet melihat keberadaan Wyldstyle, murid Vitruvius yang sedang mencari piece of resistence untuk mengehentikan President Business. Ketika akan mengusirnya, Emmet malah harus jatuh ke dalam lubang bawah tanah yang sangat dalam yang ternyata ada piece of resistence didalamnya. Emmet yang tak tahu menahu langsusng saja menyentuhnya hingga tak sadarkan diri. Ketika sudah sadar, benda yang menyerupai batu bata tersebut tanpa diketahui menempel dipunggungnya dan kini nasib dunia lego ada ditangannya.


"Hi, I'm President Business, president of the Octan corporation and the world. Let's take extra care to follow the instructions or you'll be put to sleep, and don't forget Taco Tuesday's coming next week." President Business

Sudah berapa film yang mengangkat tema zero to hero seperti ini. Mungkin kalau saya sebutkan satu per satu saya tidak akan menyelasaikan tulisan ini. Namun di tangan Phil Lord, formula yang sudah usang tersebut dipolesnya sedemikian rupa dan memindahkan setnya ke dalam dunia lego yang sungguh sangat mengasyikkan untuk ditonton lengkap dengan theme song 'Everything is Awesome' yang ear-catchy tersebut. Lewat visualisasinya yang begitu mengagumkan itu saya sempat berkata dalam hati "kenapa dulu waktu masih anak-anak cuma main kelereng, sama robot-robotan aja?" Karena dunia lego yang dibuat oleh tim visual designernya sungguh membuat saya ingin membeli dan memainkan lagi tumpukan-tumpukan kecil warna-warni itu.


The Lego Movie tidak hanya berbicara mengenai animasinya yang cantik, film ini juga mengimbanginya dengan sebuah plot cerita yang pas untuk semua segmen umur. Selain zero to hero yang saya sebut tadi, duo sutradara yang pertama kali bekerja sama ini ingin menyampaikan sesuatu kepada para orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton untuk tidak memaksakan ide mereka ke dalam otak anak-anak mereka. Phil Lord dan Christopher Miller seakan ingin mengajak para orang tua ini untuk merelakan anak-anaknya untuk menjalankan ide masing-masing tanpa harus tertekan dengan keinginan orang tua mereka.


"I like Emmet before it was cool." Vitruvius

Kemudian dari para pengisi suara, Chris Pratt yang memerankan Emmet dan Elizabeth Banks yang menyuarakan Wyldstyle menjalankan tugas mereka dengan baik masing-masing sebagai buruh bangunan tanpa skill yang sedih karena tidak dikenali teman-temannya serta murid Vitruvius yang sangat sedih mengetahu bahwa dia adala masterbuilder yang handal namun bukan 'The Special One' yang dicari-cari selama ini. Berbagai macam cameo yang turut hadir dalam film ini sebut saja Dumbledore yang suaranya lembut, Gandalf, Chewbacca, dan proyek impian WB yang sampai saat ini tidak keturutan, Justice League semuanya berhasil mendapat spotnya yang adil. Tapi sebenarnya ada 2 scene stealer yang membuat saya terbahak-bahak yang pertama adalah Batman yang disuarakan oleh Will Arnett. Dalam film ini, mungkin bagi anak-anak tidak akan mengerti sama sekali tentang jokenya, tapi untuk kalangan dewasa this Batman killed all the jokes about himself. Yang paling mencuri perhatian adalah Vitruvius yang diperankan aktor veteran yang konon mempunyai suara paling bijak di Hollywood, Morgan Freeman. Karakter yang diperankannya adalah seorang penyihir yang mahir bermain piano lengkap dengan guyonan one-linernya dan dan ketika nanti karakternya berubah menjadi... ah tonton aja sendiri, his voice couldn't get any funnier than that. Ketika semua itu belum cukup, Phil Lord memeluntir semua kisahnya dengan sebuah twist yang sangat cerdas dan cameo yang tak kalah mengejutkan.


"I only work in black and sometimes very, very dark grey." Batman

Jika saja The Lego Movie tidak menampilkan satu momen yang tidak masuk akal menjelang endingnya, The Lego Movie adalah animasi terbaik setelah Toy Story 3. Berbicara Oscar tahun depan tentu masih jauh, tapi dengan percaya diri saya menggaransi The Lego Movie telah mengamankan posisi mereka dalam nominasi Best Animated Feature untuk pagelaran Oscar tahun depan.


"Release the Kragle!" President Business

No comments:

Post a Comment